“Iklan Apple Diprotes: iPad Pro Mencemari Mahakarya”

By | Mei 11, 2024

Kontroversi Iklan iPad Pro Apple: Menghancurkan Warisan Seni Demi Kemajuan Teknologi

CUPERTINO – Raksasa teknologi Apple telah meluncurkan iPad Pro terbaru, yang menampilkan desain dan teknologi terdepan. Namun, kampanye iklan untuk perangkat tersebut telah memicu kemarahan, karena dianggap melecehkan karya seni warisan manusia.

Dalam video yang diunggah di akun Twitter pribadi CEO Apple Tim Cook, ia dengan antusias memamerkan perangkat terbaru sebagai pencapaian teknologi paling mutakhir. Tetapi, iklan tersebut menampilkan pemandangan yang meresahkan: karya seni berharga seperti piano, terompet, dan patung dihancurkan di atas panggung.

Ketika mesin penghancur menyelesaikan tugasnya, sebuah iPad Pro muncul di tengah puing-puing, seolah-olah karya seni tersebut telah diubah menjadi tablet canggih. Namun, pesan yang disampaikan menimbulkan kekhawatiran.

Para kritikus mengecam iklan tersebut karena mengagung-agungkan kecerdasan buatan (AI) dengan mengorbankan kreativitas manusia. Mereka berargumen bahwa iklan tersebut menunjukkan penggantian seni yang diciptakan oleh manusia dengan teknologi Apple.

“Menghancurkan simbol kreativitas dan pencapaian budaya manusia untuk menarik pencipta profesional, bagus sekali. Mungkin untuk Apple Watch Pro berikutnya, Anda harus menghancurkan peralatan olahraga, menunjukkan robot berlari lebih cepat dari manusia, lalu beralih ke kamera dan berkata, “Tuhan sudah mati dan kami telah membunuhnya”,” tulis seorang pengguna Twitter.

Yang lain mengekspresikan kesedihan dan malu atas iklan tersebut. “Ini adalah iklan yang menyedihkan, tidak nyaman, dan egois. Melihat ini, saya malu menjadi pembeli produk Apple selama sembilan belas tahun,” kata seorang pengguna.

Terinspirasi oleh iklan Apple tahun 1984, beberapa kritikus menyindir bahwa raksasa teknologi itu telah menjadi kekuatan distopia yang mereka tolak dulu. “Empat puluh tahun lalu, Apple merilis iklan tahun 1984 sebagai pernyataan berani menentang masa depan distopia. Sekarang Anda adalah masa depan distopia itu. Selamat,” ujar seorang pengguna.

Kontroversi ini menggarisbawahi ketegangan yang sedang berlangsung antara kemajuan teknologi dan pelestarian warisan budaya. Saat perusahaan berlomba untuk berinovasi dan mendorong kemajuan, penting untuk merenungkan dampaknya pada masyarakat dan menghargai kontribusi seniman di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *